Shafiyah binti Huyay - Istri Rasulullah SAW dari Kalangan Yahudi
Latar
Belakang Shafiyah
Shafiyah atau
biasa dipanggil dengan Shofiyah, merupakan anak kesayangan dari pemimpin
yahudi, yaitu Huyay bin Akhtab. Shafiyah berasal dari suku Bani Nadhir. Sebelum
menikah dengan Nabi Muhammad SAW, Shafiyah memiliki suami yang bernama Sallam
bin Misykam, namun Shafiyah diceraikan. Selanjutnya Shafiyah menikah lagi
dengan Kinanah bin Abu Huqaiq yang merupakan seorang penyair.
Shafiyah Haus akan Ilmu
Pengetahuan
Sejak masih muda, Shafiyah sudah gemar akan ilmu pengetahuan. Shafiyah memperlajari sejarah Yahudi, dan menemukan dalam kitab Taurat, bahwa akan datang seorang Nabi penyempurna agama samawi yang datang dari Jazirah Arab. Meskipun begitu, sang Ayah dan kaumnya tetap memusuhi Nabi Muhammad SAW atas dasar faktor kedengkian dan iri hati. Mereka juga menyembunyikan fakta kenabian tersebut kepada Shafiyah, namun pada akhirnya Shafiyah mengetahui fakta kenabian tersebut dari sumber-sumber yang sudah ia baca.
Shafiyah pernah bercerita bagaimana Ayah dan Pamannya sangat membenci Nabi Muhammad SAW.
Ketika Rasulullah SAW datang ke Yastrib, Ayah dan Paman Shafiyah pergi sejak pagi untuk menyelidikinya. Saat Ayah dan Pamannya kembali pada malam hari, keduanya terlihat sangat lelah dan lemas. Shafiyah pun menyambut mereka berdua. Namun, tak ada satupun, baik Ayah ataupun Pamannya yang menoleh ke arahnya. Ayah dan Pamannya fokus pada apa yang telah mereka selidiki. Shafiyah pun mendengar percakapan Ayah dan Pamannya.
Paman : “Apakah itu orangnya?”
Ayah : “iya, betul”
Paman : “apa
kamu mengenalnya?”
Ayah : “ya”
Paman :
“Bagaimana pendapatmu tentang dia?”
Ayah : “Saya
akan memusuhinya selama saya hidup”
Perang
Khaibar (Awal Pertemuan Shafiyah dan Rasulullah SAW)
Pada bulan Muharram, Nabi Muhammad SAW memimpin pasukan untuk menyerang khaibar. Khaibar merupakan markas Yahudi. Tujuan Nabi Muhammad SAW menyerang adalah untuk menghentikan ancaman Yahudi yang hendak menghancurkan umat Islam.
Jika dilihat dari besarnya pasukan, Pasukan dari Yahudi jauh lebih besar dan dilengkapi dengan berbagai alat peperangan dibandingkan dengan umat muslim. Namun dengan pertolongan Allah SWT, umat Islam pun memenangkan peperangan tersebut. Ayah dan Suami Shafiyah pun meninggal saat peperangan.
Kaum muslimin mendapatkan harta rampasan perang yang sangat banyak, dan para perempuan sebagai tawanan. Seorang sahabat, Dihyah Al Kalby memilih Shafiyah binti Huyay untuk dijadikan budaknya. Namun, mengetahui Shafiyah merupakan anak pemuka Yahudi, sahabat lain melarangnya, dan mengatakan bahwa hanya Nabi Muhammad SAW yang pantas mendapatkan Shafiyah.
Rasulullah SAW berencana untuk membawa Shafiyah ke Madinah. Namun sebelum sampai di Madinah, Rasulullah SAW meminta kaum muslimin untuk beristirahat di daerah Shahba’, dan mendirikan tenda di sana.
Pada Malam hari, Rasulullah SAW mulai berbincang dengan Shafiyah. Rasulullah melihat terdapat lebam di daerah matanya. “Kenapa dengan matamu Shafiyah?” Tanya Rasulullah SAW.
“Dulu aku pernah bermimpi melihat bulan di pangkuanku, lalu aku menceritakan hal tersebut kepada suamiku, Kinanah. Dia langsung menamparku dan menuduhku telah menyukai pemimpin Madinah, yaitu Muhammad”.
Kinanah termasuk kaum Yahudi yang bisa melihat tafsir sebuah mimpi.
Shafiyah pun melanjutkan perkataannya :
“Bagaimana mungkin aku bisa
menyukai lelaki yang paling aku benci, dia telah membunuh Ayahku, Suamiku, dan
tentu saja, aku tidak akan pernah bisa memaafkannya”.
Mendengar hal tersebut, Rasulullah SAW secara perlahan dan lembut menjelaskan kepada Shafiyah apa yang dilakukan Ayahnya kepada Rasulullah SAW dan Umat Islam. (14)
“Shafiyah, Ayahu tidak henti-hentinya memusihiku. Ia menghasut orang-orang Arab untuk menyerang kaumku”.
"Ayahmu juga menghasut pemimpin Bani Quraidzah untuk mengkhianatiku. Kaummu telah melakukan hal ini dan hal itu”.
Rasulullah SAW menjelaskan semuanya kepada Shafiyah secara detail, sampai Shafiyah merasa tenang, dan hilanglah rasa kebencian itu. Dalam sebuah riwayat, Shafiyah mengatakan kepada muridnya : “Setelah Rasulullah SAW menceritakan itu semua, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, sejak saat itu, tidak ada orang lain yang lebih aku cintai melebihi cintaku kepada Rasulullah SAW”.
Yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW seluruhnya sesuai dengan keyakinan yang selama ini Shafiyah pelajari, bahwa ajaran Muhammadlah yang benar.
Melihat Shafiyah yang hanya diam tanpa komentar setelah mendengar penjelasan Rasulullah tersebut. Rasulullah SAW memberikan penawaran kepada Shafiyah. “Pilihlah wahai Shafiyah, jika engkau memilih Islam, maka aku akan menikahimu, dan jika engkau tetap memilih Yahudi, maka aku akan tetap membebaskanmu, sehingga engkau bisa kembali kepada kaummu”.
Mendengar penawaran tersebut,
Shafiyah pun menjawab dengan tegas :
“Wahai Rasulullah, aku sudah
lama menyukai Islam, dan percaya padamu sebelum engkau mengajakku”
“Aku sudah tidak tertarik pada
agama Yahudi. Ayahku sudah tiada, saudarapun juga tidak ada, sedangkan engkau
memberiku pilihan antara kafir dan Islam?”
“Tentu saja Allah SWT dan
Rasul-Nya lebih aku senangi daripada kebebasan dan kembali pada kaumku”
Akhirnya, Shafiyah binti Huyay pun masuk Islam. Dan Rasulullah SAW segera mengumumkan kabar pernikahannya dengan Shafiyah kepada para Sahabat.
Selama memeluk Islam, Shafiyah tidak sedikitpun terbersit pikiran untuk mengkhianati Nabi Muhammad SAW. Meskipun banyak Sahabat dan Istri Nabi yang lain meragukannya, karena Shafiyah keturunan Yahudi, namun cinta Shafiyah kepada Islam tulus dari hatinya. Hal ini dibuktikan dengan ketundukan Shafiyah kepada Allah SWT dan Rasulullah yang tercermin dari perilakunya.
Kecerdasan Shafiyah, menuntunnya menerima Islam dengan mudah dan menyeluruh, serta tanpa persyaratan apapun.


Komentar
Posting Komentar